Gorontalo-Hasil
kerja sama riset yang dilakukan dosen Universitas Negeri Gorontalo (UNG)
memberikan gambaran mengenai struktur komunitas dan dominasi jenis mangrove di
kawasan pesisir Teluk Tomini, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo. Riset
tersebut mengungkap adanya keberagaman jenis mangrove serta perbedaan tingkat
regenerasi pada sejumlah lokasi penelitian.
Penelitian
yang dilakukan Fauzia Zees, Rieny Sulistijowati S., dan Lukman Mile dari
Program Studi Ilmu Kelautan, Program Pascasarjana UNG tersebut berjudul
“Struktur Komunitas Mangrove di Pesisir Teluk Tomini Kabupaten Boalemo Provinsi
Gorontalo.”
Riset
ini bertujuan mengidentifikasi dan menganalisis struktur komunitas mangrove
pada kategori semai dan pancang di kawasan pesisir Teluk Tomini. Hasil
penelitian menjadi bagian dari kontribusi akademik UNG dalam menyediakan data
ilmiah mengenai kondisi ekosistem mangrove dan dinamika regenerasinya di
wilayah pesisir.
Penelitian
tersebut telah dipublikasikan dalam Jurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik,
Volume 9 Nomor 4, November 2025, dengan DOI
10.46252/jsai-fpik-unipa.2025.Vol.9.No.4.550.
11 Jenis Mangrove Ditemukan
Pengamatan
dilakukan menggunakan metode transek garis pada empat stasiun yang mewakili
tiga kecamatan pesisir, yaitu Desa Bajo di Kecamatan Tilamuta, Desa Dulangeya
di Kecamatan Botumoito, serta Desa Tabulo Selatan dan Desa Mananggu di
Kecamatan Mananggu.
Hasil
penelitian mencatat 11 jenis mangrove, yaitu Avicennia marina, Bruguiera
gymnorrhiza, Bruguiera parviflora, Ceriops decandra, Ceriops tagal, Rhizophora
apiculata, Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, Sonneratia alba,
Sonneratia caseolaris, dan Xylocarpus moluccensis.
Di
antara jenis yang ditemukan, genus Rhizophora relatif sering dijumpai pada
sejumlah stasiun. Rhizophora mucronata dan Rhizophora stylosa masing-masing
ditemukan pada tiga stasiun penelitian.
Kehadiran
kedua jenis tersebut menunjukkan kemampuan adaptasi terhadap kondisi lingkungan
pesisir yang memiliki karakter substrat berlumpur hingga berpasir serta tingkat
salinitas yang bervariasi.
Ceriops tagal Menjadi Jenis Dominan di Desa Dulangeya
Salah
satu temuan utama penelitian terlihat pada Stasiun 2 di Desa Dulangeya,
Kecamatan Botumoito. Pada lokasi tersebut, Ceriops tagal menjadi jenis dominan
pada kategori semai.
Ceriops
tagal memiliki kerapatan mutlak sebesar 56 individu/m², frekuensi mutlak 0,48,
dan dominansi relatif mencapai 87,5 persen. Sebagai perbandingan, Bruguiera
gymnorrhiza di lokasi yang sama memiliki kerapatan mutlak 1 individu/m²,
frekuensi mutlak 0,05, dan dominansi relatif 1,56 persen.
Dominasi
Ceriops tagal juga terlihat pada kategori pancang. Jenis tersebut memiliki
kerapatan tertinggi sebesar 8,36 individu/m² dengan dominansi relatif mencapai
73,85 persen. Sementara itu, kerapatan terendah pada kategori pancang tercatat
pada Rhizophora apiculata, yakni 0,04 individu/m².
Temuan
tersebut menunjukkan adanya variasi struktur komunitas mangrove antarstasiun
penelitian yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan karakteristik habitat
masing-masing lokasi.
Mananggu Menunjukkan Regenerasi Mangrove yang Lebih Beragam
Selain
dominasi jenis tertentu, penelitian juga menemukan adanya perbedaan jumlah
jenis mangrove pada tingkat semai di setiap stasiun.
Stasiun
4 di Desa Mananggu memiliki jumlah jenis semai paling banyak, yakni enam jenis
yang terdiri atas Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, Ceriops tagal,
Ceriops decandra, Bruguiera parviflora, dan Sonneratia alba.
Secara
keseluruhan, kerapatan semai tertinggi terdapat di Stasiun 4 dengan 98
individu, sedangkan kerapatan terendah ditemukan di Stasiun 1 dengan 23
individu.
Perbedaan
jumlah dan kerapatan jenis tersebut menunjukkan adanya variasi proses
regenerasi mangrove di setiap lokasi. Peneliti mengaitkan kondisi tersebut
dengan perbedaan karakteristik substrat, stabilitas hidrologi, serta aktivitas
manusia di sekitar kawasan pesisir.
Kondisi Lingkungan Masih Mendukung Pertumbuhan Mangrove
Pengukuran
parameter lingkungan pada empat stasiun menunjukkan suhu perairan berkisar
antara 26,73–30,19°C, pH 7,33–7,99, dan salinitas 7,33–30,64 ppt. Sementara
itu, substrat pada lokasi penelitian secara umum berupa lumpur dan pasir.
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa kisaran suhu yang ditemukan masih mendukung
pertumbuhan mangrove. Nilai pH juga berada pada kisaran yang dinilai normal
untuk mendukung kestabilan ekosistem mangrove.
Adapun
perbedaan tingkat salinitas antarstasiun diduga berkaitan dengan masuknya
pasokan air tawar pada beberapa lokasi penelitian. Variasi kondisi lingkungan
tersebut menjadi salah satu faktor yang turut memengaruhi komposisi dan
struktur komunitas mangrove.
Melalui
hasil riset ini, UNG turut memperkuat ketersediaan data ilmiah mengenai kondisi
ekosistem mangrove di pesisir Teluk Tomini, khususnya wilayah Kabupaten
Boalemo.
Data
mengenai komposisi jenis, kerapatan, frekuensi, dominansi, serta kondisi
lingkungan tersebut dapat menjadi informasi dasar untuk memahami proses
regenerasi dan dinamika komunitas mangrove sekaligus mendukung upaya
pengelolaan ekosistem pesisir secara berkelanjutan.
Penelitian
“Struktur Komunitas Mangrove di Pesisir Teluk Tomini Kabupaten Boalemo Provinsi
Gorontalo” dipublikasikan pada Jurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik Volume 9
Nomor 4 Tahun 2025 dan tercatat dalam Garuda dengan tiga penulis dari
Universitas Negeri Gorontalo.
Sumber: https://ejournalfpikunipa.ac.id/index.php/JSAI/article/view/550/296