Update Terkini

Berita

HASIL KERJA SAMA RISET UNG UNGKAP STRUKTUR DAN DOMINASI MANGROVE DI PESISIR TELUK TOMINI
Penelitian
Penelitian 05 Oct 2026 0 dilihat

HASIL KERJA SAMA RISET UNG UNGKAP STRUKTUR DAN DOMINASI MANGROVE DI PESISIR TELUK TOMINI

Gorontalo-Hasil kerja sama riset yang dilakukan dosen Universitas Negeri Gorontalo (UNG) memberikan gambaran mengenai struktur komunitas dan dominasi jenis mangrove di kawasan pesisir Teluk Tomini, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo. Riset tersebut mengungkap adanya keberagaman jenis mangrove serta perbedaan tingkat regenerasi pada sejumlah lokasi penelitian.

 

Penelitian yang dilakukan Fauzia Zees, Rieny Sulistijowati S., dan Lukman Mile dari Program Studi Ilmu Kelautan, Program Pascasarjana UNG tersebut berjudul “Struktur Komunitas Mangrove di Pesisir Teluk Tomini Kabupaten Boalemo Provinsi Gorontalo.”

 

Riset ini bertujuan mengidentifikasi dan menganalisis struktur komunitas mangrove pada kategori semai dan pancang di kawasan pesisir Teluk Tomini. Hasil penelitian menjadi bagian dari kontribusi akademik UNG dalam menyediakan data ilmiah mengenai kondisi ekosistem mangrove dan dinamika regenerasinya di wilayah pesisir.

 

Penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam Jurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik, Volume 9 Nomor 4, November 2025, dengan DOI 10.46252/jsai-fpik-unipa.2025.Vol.9.No.4.550.

 

11 Jenis Mangrove Ditemukan

Pengamatan dilakukan menggunakan metode transek garis pada empat stasiun yang mewakili tiga kecamatan pesisir, yaitu Desa Bajo di Kecamatan Tilamuta, Desa Dulangeya di Kecamatan Botumoito, serta Desa Tabulo Selatan dan Desa Mananggu di Kecamatan Mananggu.

 

Hasil penelitian mencatat 11 jenis mangrove, yaitu Avicennia marina, Bruguiera gymnorrhiza, Bruguiera parviflora, Ceriops decandra, Ceriops tagal, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, Sonneratia alba, Sonneratia caseolaris, dan Xylocarpus moluccensis.

 

Di antara jenis yang ditemukan, genus Rhizophora relatif sering dijumpai pada sejumlah stasiun. Rhizophora mucronata dan Rhizophora stylosa masing-masing ditemukan pada tiga stasiun penelitian.

 

Kehadiran kedua jenis tersebut menunjukkan kemampuan adaptasi terhadap kondisi lingkungan pesisir yang memiliki karakter substrat berlumpur hingga berpasir serta tingkat salinitas yang bervariasi.

 

Ceriops tagal Menjadi Jenis Dominan di Desa Dulangeya

Salah satu temuan utama penelitian terlihat pada Stasiun 2 di Desa Dulangeya, Kecamatan Botumoito. Pada lokasi tersebut, Ceriops tagal menjadi jenis dominan pada kategori semai.

 

Ceriops tagal memiliki kerapatan mutlak sebesar 56 individu/m², frekuensi mutlak 0,48, dan dominansi relatif mencapai 87,5 persen. Sebagai perbandingan, Bruguiera gymnorrhiza di lokasi yang sama memiliki kerapatan mutlak 1 individu/m², frekuensi mutlak 0,05, dan dominansi relatif 1,56 persen.

 

Dominasi Ceriops tagal juga terlihat pada kategori pancang. Jenis tersebut memiliki kerapatan tertinggi sebesar 8,36 individu/m² dengan dominansi relatif mencapai 73,85 persen. Sementara itu, kerapatan terendah pada kategori pancang tercatat pada Rhizophora apiculata, yakni 0,04 individu/m².

 

Temuan tersebut menunjukkan adanya variasi struktur komunitas mangrove antarstasiun penelitian yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan karakteristik habitat masing-masing lokasi.

 

Mananggu Menunjukkan Regenerasi Mangrove yang Lebih Beragam

Selain dominasi jenis tertentu, penelitian juga menemukan adanya perbedaan jumlah jenis mangrove pada tingkat semai di setiap stasiun.

 

Stasiun 4 di Desa Mananggu memiliki jumlah jenis semai paling banyak, yakni enam jenis yang terdiri atas Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, Ceriops tagal, Ceriops decandra, Bruguiera parviflora, dan Sonneratia alba.

 

Secara keseluruhan, kerapatan semai tertinggi terdapat di Stasiun 4 dengan 98 individu, sedangkan kerapatan terendah ditemukan di Stasiun 1 dengan 23 individu.

 

Perbedaan jumlah dan kerapatan jenis tersebut menunjukkan adanya variasi proses regenerasi mangrove di setiap lokasi. Peneliti mengaitkan kondisi tersebut dengan perbedaan karakteristik substrat, stabilitas hidrologi, serta aktivitas manusia di sekitar kawasan pesisir.

 

Kondisi Lingkungan Masih Mendukung Pertumbuhan Mangrove

Pengukuran parameter lingkungan pada empat stasiun menunjukkan suhu perairan berkisar antara 26,73–30,19°C, pH 7,33–7,99, dan salinitas 7,33–30,64 ppt. Sementara itu, substrat pada lokasi penelitian secara umum berupa lumpur dan pasir.

 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kisaran suhu yang ditemukan masih mendukung pertumbuhan mangrove. Nilai pH juga berada pada kisaran yang dinilai normal untuk mendukung kestabilan ekosistem mangrove.

 

Adapun perbedaan tingkat salinitas antarstasiun diduga berkaitan dengan masuknya pasokan air tawar pada beberapa lokasi penelitian. Variasi kondisi lingkungan tersebut menjadi salah satu faktor yang turut memengaruhi komposisi dan struktur komunitas mangrove.

 

Melalui hasil riset ini, UNG turut memperkuat ketersediaan data ilmiah mengenai kondisi ekosistem mangrove di pesisir Teluk Tomini, khususnya wilayah Kabupaten Boalemo.

 

Data mengenai komposisi jenis, kerapatan, frekuensi, dominansi, serta kondisi lingkungan tersebut dapat menjadi informasi dasar untuk memahami proses regenerasi dan dinamika komunitas mangrove sekaligus mendukung upaya pengelolaan ekosistem pesisir secara berkelanjutan.

 

Penelitian “Struktur Komunitas Mangrove di Pesisir Teluk Tomini Kabupaten Boalemo Provinsi Gorontalo” dipublikasikan pada Jurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik Volume 9 Nomor 4 Tahun 2025 dan tercatat dalam Garuda dengan tiga penulis dari Universitas Negeri Gorontalo.


Sumber: https://ejournalfpikunipa.ac.id/index.php/JSAI/article/view/550/296