Gorontalo-Universitas Negeri Gorontalo (UNG) melalui kerja
sama riset yang melibatkan dosen dan peneliti menghadirkan inovasi teknologi
pengeringan ikan petek (Leiognathus equulus) menggunakan solar dryer
termodifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan teknologi tersebut
dengan lama pengeringan tertentu berpengaruh terhadap karakteristik mutu
fisikokimia, mikrobiologi, dan organoleptik ikan petek.
Riset
tersebut dituangkan dalam artikel berjudul “Quality Characteristics of Petek
Fish (Leiognathus Equulus) Which Were Dried in A Modified Solar Dryer with
Different Drying Times” yang ditulis oleh Imalda Tumulo, Asri Silvana Naiu, dan
Lukman Mile dari Undergraduate Program, Faculty of Marine Science and Fisheries
Technology, Gorontalo State University.
Hasil
riset tersebut telah dipublikasikan dalam Jurnal Ilmiah PLATAX Volume 14 Nomor
2 Tahun 2026, halaman 393–412. Penelitian ini menjadi salah satu bentuk
pemanfaatan hasil riset perguruan tinggi untuk mendukung pengembangan teknologi
pengolahan hasil perikanan.
Lima Perlakuan Lama Pengeringan
Penelitian
menggunakan ikan petek segar yang diperoleh dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI)
Kabupaten Gorontalo Utara. Ikan kemudian dikeringkan menggunakan solar dryer
termodifikasi dengan lima perlakuan waktu, yakni 0 jam atau tanpa pengeringan,
6 jam, 8 jam, 10 jam, dan 12 jam.
Untuk
mengetahui perubahan mutu selama proses pengeringan, peneliti mengamati
sejumlah parameter, meliputi kadar air, kadar abu, kadar lemak, protein, Total
Plate Count (TPC), serta karakteristik organoleptik yang mencakup kenampakan,
rasa, aroma, dan tekstur.
Penelitian
dilakukan secara eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Data
kimia dan mikrobiologi dianalisis menggunakan ANOVA, sedangkan data
organoleptik dianalisis dengan metode Kruskal-Wallis. Selanjutnya, perlakuan
terbaik ditentukan menggunakan metode pembobotan De Garmo dengan melibatkan 25
panelis dalam pengujian organoleptik.
Pengeringan 12 Jam Jadi Hasil Terpilih
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa lama pengeringan memberikan pengaruh nyata
(p<0,05) terhadap sejumlah parameter mutu ikan petek. Semakin lama proses
pengeringan dilakukan, kadar air ikan petek cenderung semakin menurun.
Kadar
air ikan petek pada berbagai perlakuan berada pada kisaran 35,82–78,04 persen.
Berdasarkan analisis De Garmo, pengeringan selama 12 jam menghasilkan nilai
produktivitas tertinggi, yaitu 0,56, sehingga ditetapkan sebagai perlakuan
terpilih.
Pada
perlakuan 12 jam, ikan petek memiliki kadar air sebesar 35,82 persen, kadar abu
0,69 persen, kadar lemak 9,35 persen, kadar protein 23,35 persen, serta nilai
TPC sebesar 3,65 log cfu/g.
Hasil
tersebut menunjukkan bahwa lama pengeringan menjadi salah satu faktor penting
dalam menghasilkan karakteristik mutu ikan petek yang diinginkan melalui
penggunaan solar dryer termodifikasi.
Penerimaan Panelis terhadap Produk Kering
Keunggulan
perlakuan 12 jam juga terlihat dari hasil pengujian organoleptik. Ikan petek yang
dikeringkan selama 12 jam menjadi perlakuan yang paling banyak dipilih panelis
pada sejumlah aspek yang diuji.
Dari
sisi kenampakan, ikan dinilai lebih utuh, bersih, bercahaya, dan telah
mengalami proses pengeringan dengan baik. Pada aspek rasa, perlakuan 12 jam
memperoleh kategori “suka”, sementara perlakuan 6–10 jam berada pada tingkat
“agak disukai”.
Pada
parameter aroma, nilai meningkat dari 1,56 pada pengeringan 6 jam menjadi 3,12
pada pengeringan 12 jam. Hasil uji Kruskal-Wallis juga menunjukkan bahwa lama
pengeringan memberikan pengaruh nyata terhadap aroma ikan petek.
Sementara
pada aspek tekstur, perlakuan 12 jam menjadi pilihan terbanyak panelis karena
ikan dinilai telah mencapai tingkat kekeringan yang cukup.
Inovasi Solar Dryer Dukung Pengolahan Hasil Perikanan
Hasil
penelitian ini memperlihatkan potensi solar dryer termodifikasi sebagai
alternatif teknologi dalam proses pengeringan ikan. Teknologi tersebut dapat
mendukung proses pengeringan dengan kondisi yang lebih terkontrol dibandingkan
metode pengeringan tradisional.
Penggunaan
solar dryer juga berpotensi menghasilkan produk yang lebih bersih dan higienis
karena proses pengeringan dilakukan menggunakan perangkat yang dirancang untuk
mendukung pengeringan dengan memanfaatkan energi matahari.
Temuan
penelitian mengenai pengeringan selama 12 jam memberikan informasi penting
dalam menentukan waktu pengeringan yang dapat menghasilkan karakteristik mutu
ikan petek yang lebih baik. Hasil riset ini sekaligus memperkuat kontribusi
kerja sama riset UNG dalam menghasilkan inovasi yang dapat dimanfaatkan untuk
pengembangan teknologi pengolahan hasil perikanan.
Ke
depan, peneliti merekomendasikan penelitian lanjutan mengenai pengolahan ikan
petek kering yang telah memiliki karakteristik mutu tersebut, sehingga hasil
riset dapat terus dikembangkan menuju penerapan teknologi pengolahan hasil
perikanan yang lebih luas.
Sumber:
https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/platax/article/view/63640/52734