Update Terkini

Berita

IMPLEMENTASI KERJA SAMA RISET: UNG KEMBANGKAN INOVASI HAND SANITIZER DARI KITOSAN TULANG SOTONG
Penelitian
Penelitian 06 Oct 2026 0 dilihat

IMPLEMENTASI KERJA SAMA RISET: UNG KEMBANGKAN INOVASI HAND SANITIZER DARI KITOSAN TULANG SOTONG

Gorontalo-Universitas Negeri Gorontalo (UNG) terus mendorong implementasi kerja sama melalui penguatan kegiatan riset yang menghasilkan inovasi dan memberikan nilai tambah bagi pemanfaatan sumber daya lokal. Salah satu hasil riset tersebut adalah pengembangan spray hand sanitizer berbasis kitosan tulang sotong (Sepia sp.) sebagai bahan aktif antibakteri terhadap Escherichia coli.

 

Riset tersebut dilakukan oleh Febriyanti Rasyid, Asri Silvana Naiu, dan Lukman Mile dari Faculty of Maritime Affairs and Fisheries Technology, Gorontalo State University. Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri, Volume 14 Nomor 1 Tahun 2025, halaman 37–52.

 

Penelitian ini menjadi salah satu bentuk implementasi kerja sama riset yang mengintegrasikan pemanfaatan hasil samping perikanan dengan pengembangan produk inovatif di bidang kebersihan. Tulang sotong yang selama ini berpotensi menjadi limbah diolah menjadi sumber kitosan yang selanjutnya dimanfaatkan sebagai bahan aktif dalam formulasi spray hand sanitizer.

 

Kitosan Tulang Sotong Memenuhi Parameter Mutu

Dalam proses penelitian, tulang sotong melalui tiga tahapan utama, yaitu deproteinasi, demineralisasi, dan deasetilasi untuk menghasilkan kitosan. Kitosan yang diperoleh kemudian dikarakterisasi untuk mengetahui kualitas dan kesesuaiannya sebagai bahan dalam formulasi hand sanitizer.

 

Hasil karakterisasi menunjukkan kitosan memiliki rendemen sebesar 30 persen, kadar air 5,23 persen, kadar abu 3,36 persen, dan derajat deasetilasi sebesar 74,78 persen. Kadar air dan kadar abu tercatat berada di bawah batas yang dirujuk dalam SNI 7949:2013, sementara derajat deasetilasi telah melampaui batas minimum 70 persen.

 

Kitosan tersebut selanjutnya diformulasikan dalam tiga konsentrasi, yakni 5 persen (P1), 10 persen (P2), dan 15 persen (P3). Masing-masing formula kemudian diuji berdasarkan karakteristik pH, viskositas, serta aktivitas antibakterinya terhadap E. coli.

 

Peningkatan Konsentrasi Kitosan Meningkatkan Aktivitas Antibakteri

Hasil pengujian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi kitosan diikuti dengan peningkatan aktivitas antibakteri terhadap E. coli. Zona hambat yang dihasilkan masing-masing formula tercatat sebesar 9,07 ± 1,33 mm pada P1, 22,03 ± 7,40 mm pada P2, dan 25,43 ± 3,96 mm pada P3.

 

Analisis ANOVA menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antarformula dengan nilai p<0,05. Berdasarkan interpretasi penelitian, P1 berada pada kategori lemah hingga sedang, P2 tergolong kuat, sedangkan P3 tergolong sangat kuat berdasarkan zona hambat yang dihasilkan.

 

Temuan tersebut menunjukkan bahwa kitosan yang berasal dari tulang sotong memiliki potensi sebagai bahan aktif antibakteri dalam pengembangan produk hand sanitizer. Namun, peningkatan konsentrasi kitosan juga berdampak terhadap karakteristik fisik formulasi, terutama viskositas.

 

Formula 10 Persen Menjadi Titik Kompromi

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa konsentrasi kitosan tertinggi tidak secara otomatis menghasilkan formulasi yang paling sesuai untuk penggunaan sebagai produk semprot.

 

Formula P3 dengan konsentrasi kitosan 15 persen menghasilkan zona hambat terbesar, tetapi memiliki viskositas 4.517 ± 680 cP. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kenyamanan dan konsistensi penyemprotan.

 

Sementara itu, P1 dengan konsentrasi 5 persen memiliki viskositas 750 ± 250 cP dan memberikan karakteristik semprot yang lebih baik, tetapi aktivitas antibakterinya masih relatif rendah.

 

Formula P2 dengan konsentrasi kitosan 10 persen menghasilkan zona hambat sebesar 22,03 ± 7,40 mm dengan viskositas 2.917 ± 1.010 cP. Berdasarkan hasil tersebut, formula P2 dipandang sebagai titik kompromi antara aktivitas antibakteri dan karakteristik fungsional formulasi.

 

Meski demikian, penelitian juga mencatat aspek yang masih perlu dioptimalkan, khususnya pH. Formula P2 memiliki pH 9,02 ± 0,17, sedangkan penelitian menggunakan rentang pH ideal kulit sekitar 4,5–6,5. Oleh karena itu, diperlukan optimasi sistem penyangga sebelum formulasi dikembangkan lebih lanjut.

 

Riset UNG Buka Peluang Pemanfaatan Limbah Perikanan

Hasil riset ini menunjukkan bahwa tulang sotong berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber kitosan non-krustasea untuk pengembangan produk kebersihan tangan. Inovasi tersebut sekaligus membuka peluang pemanfaatan hasil samping perikanan menjadi bahan bernilai tambah.

 

Melalui riset ini, UNG tidak hanya menghasilkan temuan terkait aktivitas antibakteri kitosan tulang sotong terhadap Escherichia coli, tetapi juga memperlihatkan bagaimana kegiatan penelitian dapat diarahkan pada pemanfaatan sumber daya lokal dan pengembangan inovasi berbasis hasil samping perikanan.

 

Pengembangan produk tersebut masih memerlukan sejumlah tahapan lanjutan, antara lain optimasi pH, pengaturan sifat reologi, evaluasi ukuran droplet dan pola semprotan, pengujian iritasi kulit, pemantauan kenyamanan penggunaan berulang, serta uji stabilitas selama penyimpanan.

 

Dengan demikian, implementasi kerja sama riset yang dilakukan dosen UNG ini memberikan dasar ilmiah bagi pengembangan produk higienis berbasis bahan hasil samping perikanan. Inovasi tersebut sekaligus memperkuat kontribusi riset perguruan tinggi dalam menghasilkan pemanfaatan bahan lokal yang memiliki potensi nilai tambah dan mendukung pengembangan produk yang lebih berkelanjutan.

Sumber: https://industria.ub.ac.id/index.php/industri/article/view/5621