Gorontalo-Kolaborasi
riset yang dilakukan peneliti Fakultas Kelautan dan Teknologi Perikanan (FKTP)
Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menghadirkan inovasi pengolahan rumput laut
lokal menjadi produk pangan alternatif berupa nori berbahan alga merah
Gracilaria verrucosa. Penelitian ini menjadi salah satu upaya mendorong
diversifikasi produk hasil kelautan dan perikanan melalui pemanfaatan potensi
sumber daya lokal.
Inovasi
tersebut dikembangkan melalui penelitian berjudul “Karakteristik Nori Alga
Merah Gracilaria verrucosa Menggunakan Konsentrasi Larutan Cuka Beras yang
Berbeda” oleh Siti Rahmatya A. Darise, Lukman Mile, dan Iin Susilawati Lantu
dari Program Studi Teknologi Hasil Perikanan FKTP UNG. Hasil penelitian ini
telah dipublikasikan dalam Zoologi: Jurnal Ilmu Peternakan, Ilmu Perikanan,
Ilmu Kedokteran Hewan, Volume 4 Nomor 2 Tahun 2026, halaman 60–72.
Penelitian
ini dilatarbelakangi oleh keterbatasan ketersediaan Porphyra, jenis rumput laut
yang umum digunakan sebagai bahan baku nori. Melalui kolaborasi penelitian
tersebut, para peneliti mengeksplorasi potensi Gracilaria verrucosa, salah satu
jenis alga merah yang tersedia di Indonesia, sebagai alternatif bahan baku
produk nori.
Pengembangan
ini juga memanfaatkan larutan cuka beras dalam proses perendaman untuk membantu
mengurangi aroma amis atau bau lumpur pada rumput laut, sekaligus memengaruhi
karakteristik sensori dan mutu produk yang dihasilkan.
Kolaborasi Penelitian Uji Karakteristik dan Mutu Nori
Dalam
penelitian tersebut, tim peneliti menggunakan tiga perlakuan konsentrasi
larutan cuka beras, yakni P1 dengan campuran 600 ml air dan 10 ml cuka beras,
P2 dengan 600 ml air dan 30 ml cuka beras, serta P3 dengan 600 ml air dan 50 ml
cuka beras.
Pengujian
dilakukan terhadap karakteristik organoleptik yang meliputi warna, aroma, rasa,
dan tekstur dengan melibatkan 25 panelis. Selain itu, dilakukan analisis kadar
air dan Angka Lempeng Total (ALT) untuk mengetahui karakteristik mutu dan aspek
mikrobiologis produk nori yang dihasilkan.
Penelitian
menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan analisis ANOVA dan uji lanjut
Duncan pada taraf kepercayaan 95 persen.
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa perlakuan P3 dengan konsentrasi 50 ml cuka beras
menghasilkan karakteristik organoleptik yang paling disukai panelis. Nilai
rata-rata yang diperoleh meliputi warna 4,00, aroma 4,20, rasa 3,72, dan
tekstur 4,04.
Perbedaan
konsentrasi cuka beras diketahui memberikan pengaruh nyata terhadap
karakteristik warna, aroma, rasa, dan tekstur nori. Temuan tersebut menunjukkan
bahwa pengaturan konsentrasi larutan dalam proses pengolahan menjadi salah satu
faktor penting untuk menghasilkan produk nori berbahan alga merah dengan
penerimaan sensori yang baik.
Dari
aspek kadar air, perlakuan P1 menghasilkan 10,44 persen, P2 sebesar 7,25
persen, dan P3 sebesar 8,92 persen. Ketiga perlakuan tersebut berada dalam
rentang persyaratan kadar air nori yang dicantumkan dalam penelitian
berdasarkan SNI 9105:2022, yakni maksimal 14 persen.
Sementara
itu, hasil pengujian ALT menunjukkan nilai P1 sebesar log 4,34, P2 sebesar log
4,26, dan P3 sebesar log 3,71. Penelitian mencatat bahwa peningkatan
konsentrasi cuka beras berpengaruh terhadap jumlah mikroba, karena kondisi
lingkungan yang lebih asam dapat menghambat pertumbuhan sebagian
mikroorganisme.
Berdasarkan
keseluruhan parameter yang dikaji, perlakuan P3 ditetapkan sebagai formulasi
terbaik karena menghasilkan karakteristik sensori yang paling disukai serta
memenuhi parameter mutu yang dibahas dalam penelitian.
Dorong Diversifikasi dan Hilirisasi Hasil Kelautan
Kolaborasi
riset ini memperlihatkan peluang pengembangan Gracilaria verrucosa tidak hanya
sebagai komoditas rumput laut, tetapi juga sebagai bahan baku produk pangan
olahan yang memiliki nilai tambah. Pemanfaatan alga merah menjadi nori membuka
ruang inovasi pengolahan hasil perikanan yang dapat dikembangkan lebih lanjut
sesuai kebutuhan pasar dan potensi sumber daya daerah.
Bagi
FKTP UNG, penelitian ini menjadi bagian dari penguatan kontribusi akademik
dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pengolahan hasil kelautan dan
perikanan berbasis sumber daya lokal. Kajian tersebut juga menunjukkan peran
kolaborasi peneliti dalam menghasilkan inovasi yang menghubungkan penelitian
akademik dengan peluang pemanfaatan sumber daya alam.
Ke
depan, hasil penelitian ini dapat menjadi referensi bagi pengembangan riset
lanjutan, khususnya melalui pengujian variasi konsentrasi cuka beras yang lebih
luas serta parameter mutu lainnya, seperti kandungan gizi, aktivitas
antioksidan, dan daya simpan produk.
Melalui
pengembangan riset kolaboratif tersebut, UNG terus memperluas ruang inovasi di
bidang kelautan dan perikanan sekaligus mendorong pemanfaatan potensi rumput
laut lokal menjadi produk olahan yang berpotensi mendukung diversifikasi pangan
dan peningkatan nilai ekonomi sumber daya pesisir.
Sumber: https://journal.asrihindo.or.id/index.php/Zoologi/article/view/389/388