Gorontalo-Kolaborasi
riset dosen Fakultas Kelautan dan Teknologi Perikanan (FKTP), Universitas
Negeri Gorontalo (UNG), mengungkap potensi ekstrak daun jati (Tectona grandis)
sebagai alternatif penanganan infeksi bakteri Aeromonas hydrophila pada ikan
lele. Penelitian ini menjadi bagian dari upaya pengembangan inovasi kesehatan
ikan berbasis bahan alami yang berpotensi mendukung keberlanjutan usaha
budidaya perikanan.
Penelitian
berjudul “Efficacy of Teak (Tectona grandis) Leaf Extract Against Aeromonas
hydrophila in Catfish” ditulis oleh Silvana Kasim, Arafik Lamadi, dan Indra G.
Ahmad. Ketiganya merupakan peneliti dari Departemen Budidaya Perairan, FKTP
UNG. Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam Grouper: Jurnal
Ilmiah Perikanan, Volume 17 Nomor 1 Tahun 2026, halaman 75-84.
Riset
ini dilatarbelakangi oleh pentingnya ikan lele sebagai salah satu komoditas
budidaya perikanan serta tantangan penyakit yang dihadapi pembudidaya. Salah
satunya adalah Motile Aeromonas Septicemia (MAS), penyakit yang disebabkan oleh
bakteri Aeromonas hydrophila dan dapat mengganggu kesehatan ikan serta
menimbulkan kerugian ekonomi apabila tidak ditangani secara tepat.
Untuk
menjawab tantangan tersebut, tim peneliti menguji potensi larutan daun jati
muda dalam membantu penanganan infeksi bakteri pada ikan lele. Penelitian
dilaksanakan menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan tiga
ulangan selama 19 hari. Ikan lele terlebih dahulu diinjeksi secara
intramuskular dengan 0,1 ml bakteri, kemudian diberikan perlakuan melalui
perendaman selama 20 menit.
Konsentrasi
larutan daun jati yang diuji meliputi 10 gram per liter, 15 gram per liter, dan
20 gram per liter, dengan kelompok kontrol sebagai pembanding. Data hasil
pengamatan selanjutnya dianalisis menggunakan analisis ragam atau Analysis of
Variance (ANOVA) untuk mengetahui perbedaan hasil antarperlakuan.
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa larutan daun jati muda berpotensi digunakan
sebagai alternatif penanganan infeksi A. hydrophila pada ikan lele. Konsentrasi
10 gram per liter dilaporkan sebagai perlakuan optimal berdasarkan parameter
yang diamati. Pada perlakuan tersebut, penelitian mencatat tingkat kelangsungan
hidup dan tingkat kesembuhan ikan masing-masing mencapai 100%.
Temuan
ini membuka peluang bagi pengembangan bahan alami lokal sebagai salah satu
pendekatan dalam penelitian kesehatan ikan. Daun jati menjadi sumber bahan
herbal yang menarik untuk dikaji lebih lanjut, terutama dalam upaya mencari
alternatif penanganan penyakit yang dapat mendukung kesehatan ikan dan
keberlanjutan kegiatan budidaya.
Publikasi
ini juga memperkuat kontribusi sivitas akademika FKTP UNG dalam pengembangan
ilmu pengetahuan di bidang kesehatan ikan dan teknologi budidaya perairan.
Hasil penelitian berpotensi menjadi referensi bagi mahasiswa, peneliti, serta pelaku
usaha perikanan yang ingin mendalami pemanfaatan bahan alami dalam pengelolaan
kesehatan organisme budidaya.
Meski
demikian, penerapan hasil penelitian pada skala budidaya masih memerlukan
pengujian lanjutan. Tahapan tersebut mencakup standardisasi ekstrak, evaluasi
keamanan, penentuan dosis yang konsisten, serta pengujian pada kondisi budidaya
yang lebih beragam. Upaya ini penting untuk memastikan efektivitas dan keamanan
penggunaan daun jati sebelum direkomendasikan secara luas kepada pembudidaya.
Melalui
riset ini, UNG terus mendorong pengembangan inovasi di bidang kelautan dan
perikanan dengan memanfaatkan potensi sumber daya lokal. Pengembangan
penelitian yang berorientasi pada kebutuhan sektor budidaya diharapkan dapat
memperluas pilihan pendekatan penanganan penyakit ikan sekaligus mendukung
peningkatan produktivitas perikanan yang berkelanjutan.
Sumber: https://grouper.unisla.ac.id/index.php/grouper/article/view/415/224