Update Terkini

Berita

MELALUI KERJA SAMA RISET: UNG UNGKAP KETERKAITAN TERIPANG DENGAN HABITAT LAMUN TELUK TOMINI
Penelitian
Penelitian 08 Oct 2026 0 dilihat

MELALUI KERJA SAMA RISET: UNG UNGKAP KETERKAITAN TERIPANG DENGAN HABITAT LAMUN TELUK TOMINI

Gorontalo-Melalui kerja sama riset, Universitas Negeri Gorontalo (UNG) turut mengungkap pola keberadaan teripang pada habitat lamun di kawasan terumbu datar Teluk Tomini, Provinsi Gorontalo. Kajian tersebut berhasil dipublikasikan dalam Journal of Fisheries and Environment, Volume 50 Nomor 2 Tahun 2026, melalui penelitian berjudul “Beyond Seagrass Density: Holothuroid Occurrence across Fine-scale Habitat Mosaics in Reef Flats of Tomini Bay, Indonesia.”

 

Penelitian ini mengkaji pola kemunculan teripang dengan melihat kondisi habitat pada skala mikro. Kawasan terumbu datar Teluk Tomini yang menjadi lokasi penelitian memiliki karakter habitat yang heterogen, dengan padang lamun yang berdampingan dengan pasir, pecahan karang, kerikil, serta berbagai tipe substrat lainnya.

 

Kondisi tersebut menjadi dasar penelitian untuk melihat keterkaitan keberadaan teripang dengan karakteristik habitat di sekitarnya. Kajian tidak hanya melihat kepadatan lamun, tetapi juga mempertimbangkan konteks mosaik habitat berskala kecil yang terbentuk dari perpaduan lamun, substrat, dan kondisi lingkungan.

 

Pengamatan dilakukan pada tiga stasiun penelitian. Pada setiap stasiun digunakan tiga kuadrat berukuran 1 × 1 meter. Masing-masing kuadrat kemudian dibagi menjadi 25 mikroplot berukuran 20 × 20 sentimeter, sehingga keseluruhan kerangka sampling menghasilkan 225 mikroplot.

 

Pengamatan teripang dilakukan melalui sensus visual pada siang dan malam hari. Selain keberadaan teripang, penelitian juga mencatat kondisi lamun, karakteristik substrat, suhu, salinitas, dan pH sebagai bagian dari karakterisasi habitat.

 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa teripang ditemukan pada 37 mikroplot yang juga memiliki lamun. Sementara itu, sebanyak 33 mikroplot hanya memiliki lamun. Sebanyak 155 mikroplot menunjukkan ketidakhadiran lamun maupun teripang, dan tidak ditemukan mikroplot yang hanya ditempati teripang tanpa keberadaan lamun.

 

Temuan tersebut kemudian diperkuat melalui analisis kepadatan tegakan lamun. Hasil uji Mann–Whitney menunjukkan nilai U = 664 dengan p = 0,533, yang berarti tidak terdapat bukti perbedaan kepadatan tegakan lamun antara mikroplot yang hanya memiliki lamun dan mikroplot yang memiliki lamun sekaligus teripang.

 

Dengan demikian, kepadatan lamun saja belum cukup untuk menjelaskan pola kemunculan teripang pada lokasi penelitian. Keberadaan teripang perlu dipahami dalam konteks kondisi habitat yang lebih luas, termasuk heterogenitas substrat dan karakteristik lingkungan pada skala mikro.

 

Pada tingkat stasiun, kepadatan dan kekayaan jenis lamun secara numerik tertinggi ditemukan di ST3. Kepadatan rata-ratanya mencapai 4.875,67 ± 2.553,98 tegakan per meter persegi dengan kekayaan sebesar 7,00 ± 1,00 jenis.

 

Sementara itu, pengamatan teripang secara gabungan pada siang dan malam hari secara numerik paling tinggi ditemukan di ST1, yaitu 57,33 ± 34,00 pengamatan per kuadrat. Adapun kekayaan jenis teripang secara numerik tertinggi ditemukan di ST3.

 

Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa keberadaan teripang pada habitat lamun Teluk Tomini lebih tepat dikaji melalui perspektif mosaik habitat berskala kecil, bukan semata-mata berdasarkan kepadatan lamun. Variasi substrat dan kondisi lingkungan menjadi bagian penting dari konteks habitat yang perlu diperhatikan dalam memahami pola kemunculan teripang.

 

Meski demikian, penelitian ini tidak menyimpulkan adanya hubungan sebab-akibat maupun preferensi teripang terhadap habitat tertentu. Temuan yang diperoleh lebih diarahkan sebagai informasi ekologis mengenai pola kemunculan teripang dalam kondisi habitat yang heterogen pada kawasan terumbu datar Teluk Tomini.

 

Melalui hasil riset tersebut, kerja sama penelitian memberikan kontribusi terhadap penyediaan informasi dasar mengenai kondisi habitat terumbu datar di Teluk Tomini. Hasil kajian juga menunjukkan pentingnya memasukkan aspek heterogenitas substrat dan konteks habitat berskala kecil dalam pemantauan ekosistem lamun dan teripang, di samping parameter kepadatan lamun.

 

Secara keseluruhan, penelitian menyimpulkan bahwa teripang pada lokasi penelitian hanya tercatat pada mikroplot yang memiliki lamun, tetapi kepadatan lamun tidak menunjukkan perbedaan berarti antara mikroplot yang hanya memiliki lamun dan mikroplot yang juga memiliki teripang. Karena itu, pendekatan berbasis mosaik habitat menjadi perspektif yang lebih sesuai untuk menggambarkan pola kemunculan teripang pada kawasan terumbu datar Teluk Tomini.