Gorontalo-Melalui
kerja sama riset, Universitas Negeri Gorontalo (UNG) turut mengungkap pola
keberadaan teripang pada habitat lamun di kawasan terumbu datar Teluk Tomini,
Provinsi Gorontalo. Kajian tersebut berhasil dipublikasikan dalam Journal of
Fisheries and Environment, Volume 50 Nomor 2 Tahun 2026, melalui penelitian
berjudul “Beyond Seagrass Density: Holothuroid Occurrence across Fine-scale
Habitat Mosaics in Reef Flats of Tomini Bay, Indonesia.”
Penelitian
ini mengkaji pola kemunculan teripang dengan melihat kondisi habitat pada skala
mikro. Kawasan terumbu datar Teluk Tomini yang menjadi lokasi penelitian
memiliki karakter habitat yang heterogen, dengan padang lamun yang berdampingan
dengan pasir, pecahan karang, kerikil, serta berbagai tipe substrat lainnya.
Kondisi
tersebut menjadi dasar penelitian untuk melihat keterkaitan keberadaan teripang
dengan karakteristik habitat di sekitarnya. Kajian tidak hanya melihat
kepadatan lamun, tetapi juga mempertimbangkan konteks mosaik habitat berskala
kecil yang terbentuk dari perpaduan lamun, substrat, dan kondisi lingkungan.
Pengamatan
dilakukan pada tiga stasiun penelitian. Pada setiap stasiun digunakan tiga
kuadrat berukuran 1 × 1 meter. Masing-masing kuadrat kemudian dibagi menjadi 25
mikroplot berukuran 20 × 20 sentimeter, sehingga keseluruhan kerangka sampling
menghasilkan 225 mikroplot.
Pengamatan
teripang dilakukan melalui sensus visual pada siang dan malam hari. Selain
keberadaan teripang, penelitian juga mencatat kondisi lamun, karakteristik
substrat, suhu, salinitas, dan pH sebagai bagian dari karakterisasi habitat.
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa teripang ditemukan pada 37 mikroplot yang juga
memiliki lamun. Sementara itu, sebanyak 33 mikroplot hanya memiliki lamun.
Sebanyak 155 mikroplot menunjukkan ketidakhadiran lamun maupun teripang, dan
tidak ditemukan mikroplot yang hanya ditempati teripang tanpa keberadaan lamun.
Temuan
tersebut kemudian diperkuat melalui analisis kepadatan tegakan lamun. Hasil uji
Mann–Whitney menunjukkan nilai U = 664 dengan p = 0,533, yang berarti tidak
terdapat bukti perbedaan kepadatan tegakan lamun antara mikroplot yang hanya
memiliki lamun dan mikroplot yang memiliki lamun sekaligus teripang.
Dengan
demikian, kepadatan lamun saja belum cukup untuk menjelaskan pola kemunculan
teripang pada lokasi penelitian. Keberadaan teripang perlu dipahami dalam
konteks kondisi habitat yang lebih luas, termasuk heterogenitas substrat dan
karakteristik lingkungan pada skala mikro.
Pada
tingkat stasiun, kepadatan dan kekayaan jenis lamun secara numerik tertinggi
ditemukan di ST3. Kepadatan rata-ratanya mencapai 4.875,67 ± 2.553,98 tegakan
per meter persegi dengan kekayaan sebesar 7,00 ± 1,00 jenis.
Sementara
itu, pengamatan teripang secara gabungan pada siang dan malam hari secara
numerik paling tinggi ditemukan di ST1, yaitu 57,33 ± 34,00 pengamatan per
kuadrat. Adapun kekayaan jenis teripang secara numerik tertinggi ditemukan di
ST3.
Hasil
penelitian ini memperlihatkan bahwa keberadaan teripang pada habitat lamun
Teluk Tomini lebih tepat dikaji melalui perspektif mosaik habitat berskala
kecil, bukan semata-mata berdasarkan kepadatan lamun. Variasi substrat dan
kondisi lingkungan menjadi bagian penting dari konteks habitat yang perlu
diperhatikan dalam memahami pola kemunculan teripang.
Meski
demikian, penelitian ini tidak menyimpulkan adanya hubungan sebab-akibat maupun
preferensi teripang terhadap habitat tertentu. Temuan yang diperoleh lebih diarahkan
sebagai informasi ekologis mengenai pola kemunculan teripang dalam kondisi
habitat yang heterogen pada kawasan terumbu datar Teluk Tomini.
Melalui
hasil riset tersebut, kerja sama penelitian memberikan kontribusi terhadap
penyediaan informasi dasar mengenai kondisi habitat terumbu datar di Teluk
Tomini. Hasil kajian juga menunjukkan pentingnya memasukkan aspek heterogenitas
substrat dan konteks habitat berskala kecil dalam pemantauan ekosistem lamun
dan teripang, di samping parameter kepadatan lamun.
Secara keseluruhan, penelitian menyimpulkan bahwa teripang pada lokasi penelitian hanya tercatat pada mikroplot yang memiliki lamun, tetapi kepadatan lamun tidak menunjukkan perbedaan berarti antara mikroplot yang hanya memiliki lamun dan mikroplot yang juga memiliki teripang. Karena itu, pendekatan berbasis mosaik habitat menjadi perspektif yang lebih sesuai untuk menggambarkan pola kemunculan teripang pada kawasan terumbu datar Teluk Tomini.