Gorontalo-Universitas Negeri
Gorontalo (UNG) dan Universitas Hasanuddin (UNHAS) mengimplementasikan kerja
sama strategis dalam memperkuat tata kelola perguruan tinggi sebagai bagian
dari upaya mendorong kemajuan pendidikan tinggi di kawasan timur Indonesia.
Implementasi kerja sama tersebut diwujudkan melalui forum berbagi pengalaman
dan penguatan pemahaman tata kelola Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum
(PTN-BH) dalam rangka persiapan UNG menuju PTN-BH.
Forum bertajuk “Penguatan Pemahaman
Tata Kelola PTN-BH: Sosialisasi dan Berbagi Pengalaman dalam Persiapan UNG
Menuju PTN-BH bersama Unsur Pimpinan Universitas Hasanuddin” tersebut
berlangsung di Aula Prof. Kadir Abdussamad, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB)
UNG, Kamis (17/09/26). Kegiatan ini menjadi ruang strategis bagi kedua
perguruan tinggi untuk berbagi pengalaman, memperkuat koordinasi kelembagaan,
serta membahas berbagai aspek tata kelola dalam mendukung transformasi
perguruan tinggi di kawasan timur Indonesia.
Kegiatan tersebut dihadiri langsung
oleh Rektor UNG Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng.,
bersama Ketua Senat Akademik, jajaran Wakil Rektor, para dekan, dan pimpinan
unit kerja di lingkungan UNG. Sementara itu, UNHAS hadir dengan delegasi yang
dipimpin langsung oleh Rektor UNHAS Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc.,
didampingi Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) UNHAS Prof. Dr. Andi Alimuddin Unde,
M.Si., serta jajaran pimpinan Senat Akademik UNHAS.
Dalam forum tersebut, Rektor UNG
Prof. Eduart Wolok menyampaikan bahwa persiapan UNG menuju PTN-BH dilakukan
secara bertahap, terukur, dan mempertimbangkan kondisi serta karakteristik
perguruan tinggi di kawasan timur Indonesia. Menurutnya, penguatan tata kelola
menjadi bagian penting dalam memastikan transformasi kelembagaan dapat berjalan
sejalan dengan misi pendidikan tinggi dan kebutuhan masyarakat.
“UNG menaungi sekitar 24.000
mahasiswa dari berbagai provinsi dengan dominasi latar belakang ekonomi
menengah ke bawah. Karena itu, transformasi menuju PTN-BH tidak boleh sekadar
mengejar status, tetapi harus melindungi aksesibilitas mahasiswa dan menjamin
kepastian skema pendanaan negara yang adil bagi kawasan timur,” tegas Prof.
Wolok.
Ia menambahkan, implementasi kerja
sama dengan UNHAS menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran kelembagaan
UNG. Pengalaman UNHAS dalam menjalani proses transformasi dan mengembangkan
tata kelola perguruan tinggi menjadi referensi bagi UNG dalam mempersiapkan
berbagai aspek menuju kemandirian kelembagaan.
“UNHAS selama ini menjadi patron
sekaligus mitra belajar strategis bagi UNG, mulai dari masa transisi status
Badan Layanan Umum hingga persiapan kelembagaan mandiri saat ini,” ujar Prof.
Wolok.
Sementara itu, Rektor UNHAS Prof.
Jamaluddin Jompa membagikan pengalaman UNHAS dalam menjalankan tata kelola
perguruan tinggi dengan fleksibilitas kelembagaan yang dimiliki. Ia menekankan
pentingnya optimalisasi kewenangan dan fleksibilitas tata kelola yang tersedia
untuk memperkuat fungsi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada
masyarakat.
Menurut Prof. Jompa, persiapan
menuju PTN-BH perlu dilakukan secara matang dengan tetap mengoptimalkan
kapasitas kelembagaan yang telah dimiliki UNG saat ini.
“Kunci utama dari kemandirian adalah
mengoptimalkan keleluasaan tata kelola yang ada saat ini. Jadilah BLU yang
bercita rasa PTN-BH. Manfaatkan otonomi untuk menggerakkan riset dan merespons
potensi wilayah yang bernilai strategis,” ungkap Prof. Jompa.
Dalam sesi berbagi pengalaman
tersebut, Prof. Jompa juga memaparkan pengalaman UNHAS dalam memanfaatkan
otonomi akademik untuk merespons kebutuhan dan potensi strategis wilayah. Salah
satunya melalui pengembangan program studi yang mendukung kebutuhan industri
hilirisasi mineral di Sulawesi.
Pengalaman tersebut menjadi bagian
dari pembelajaran bersama bagi UNG dalam melihat peluang pengembangan akademik
dan riset yang selaras dengan potensi daerah. Menurut Prof. Jompa, UNG memiliki
modal kewilayahan yang strategis, antara lain potensi Teluk Tomini,
keanekaragaman hayati bahari, serta kekayaan mineral yang dapat dikembangkan
melalui pendidikan, penelitian, dan inovasi.
Selain penguatan otonomi akademik,
forum kerja sama tersebut turut membahas pentingnya sinergi antarunsur
kelembagaan, transformasi digital birokrasi, serta penguatan hilirisasi hasil
riset. Aspek-aspek tersebut dinilai penting dalam membangun tata kelola
perguruan tinggi yang adaptif sekaligus mendukung keberlanjutan operasional dan
peningkatan kontribusi perguruan tinggi terhadap pembangunan daerah.
Implementasi kerja sama UNG dan
UNHAS melalui forum berbagi pengalaman ini sekaligus memperkuat hubungan
kelembagaan kedua perguruan tinggi. Kolaborasi tidak hanya diarahkan pada aspek
tata kelola, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun kesamaan perspektif
dalam mengembangkan pendidikan tinggi yang responsif terhadap kebutuhan kawasan
timur Indonesia.
Pertemuan tersebut ditutup dengan
komitmen untuk terus memperkuat kolaborasi dan berbagi pengalaman antara UNG
dan UNHAS. Kedua perguruan tinggi menempatkan kerja sama sebagai instrumen
untuk saling mendukung peningkatan kualitas pendidikan tinggi, pengembangan
riset, penguatan tata kelola, serta kontribusi terhadap pembangunan Indonesia
bagian timur.