Update Terkini

Berita

PERKUAT TATA KELOLA MENUJU PTN-BH: UNG DAN UNHAS IMPLEMENTASIKAN KERJA SAMA STRATEGIS UNTUK KEMAJUAN KAWASAN TIMUR INDONESIA
Umum
Umum 18 Sep 2026 0 dilihat

PERKUAT TATA KELOLA MENUJU PTN-BH: UNG DAN UNHAS IMPLEMENTASIKAN KERJA SAMA STRATEGIS UNTUK KEMAJUAN KAWASAN TIMUR INDONESIA

Gorontalo-Universitas Negeri Gorontalo (UNG) dan Universitas Hasanuddin (UNHAS) mengimplementasikan kerja sama strategis dalam memperkuat tata kelola perguruan tinggi sebagai bagian dari upaya mendorong kemajuan pendidikan tinggi di kawasan timur Indonesia. Implementasi kerja sama tersebut diwujudkan melalui forum berbagi pengalaman dan penguatan pemahaman tata kelola Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) dalam rangka persiapan UNG menuju PTN-BH.

 

Forum bertajuk “Penguatan Pemahaman Tata Kelola PTN-BH: Sosialisasi dan Berbagi Pengalaman dalam Persiapan UNG Menuju PTN-BH bersama Unsur Pimpinan Universitas Hasanuddin” tersebut berlangsung di Aula Prof. Kadir Abdussamad, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNG, Kamis (17/09/26). Kegiatan ini menjadi ruang strategis bagi kedua perguruan tinggi untuk berbagi pengalaman, memperkuat koordinasi kelembagaan, serta membahas berbagai aspek tata kelola dalam mendukung transformasi perguruan tinggi di kawasan timur Indonesia.

 

Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Rektor UNG Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng., bersama Ketua Senat Akademik, jajaran Wakil Rektor, para dekan, dan pimpinan unit kerja di lingkungan UNG. Sementara itu, UNHAS hadir dengan delegasi yang dipimpin langsung oleh Rektor UNHAS Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., didampingi Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) UNHAS Prof. Dr. Andi Alimuddin Unde, M.Si., serta jajaran pimpinan Senat Akademik UNHAS.

 

Dalam forum tersebut, Rektor UNG Prof. Eduart Wolok menyampaikan bahwa persiapan UNG menuju PTN-BH dilakukan secara bertahap, terukur, dan mempertimbangkan kondisi serta karakteristik perguruan tinggi di kawasan timur Indonesia. Menurutnya, penguatan tata kelola menjadi bagian penting dalam memastikan transformasi kelembagaan dapat berjalan sejalan dengan misi pendidikan tinggi dan kebutuhan masyarakat.

 

“UNG menaungi sekitar 24.000 mahasiswa dari berbagai provinsi dengan dominasi latar belakang ekonomi menengah ke bawah. Karena itu, transformasi menuju PTN-BH tidak boleh sekadar mengejar status, tetapi harus melindungi aksesibilitas mahasiswa dan menjamin kepastian skema pendanaan negara yang adil bagi kawasan timur,” tegas Prof. Wolok.

 

Ia menambahkan, implementasi kerja sama dengan UNHAS menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran kelembagaan UNG. Pengalaman UNHAS dalam menjalani proses transformasi dan mengembangkan tata kelola perguruan tinggi menjadi referensi bagi UNG dalam mempersiapkan berbagai aspek menuju kemandirian kelembagaan.

 

“UNHAS selama ini menjadi patron sekaligus mitra belajar strategis bagi UNG, mulai dari masa transisi status Badan Layanan Umum hingga persiapan kelembagaan mandiri saat ini,” ujar Prof. Wolok.

 

Sementara itu, Rektor UNHAS Prof. Jamaluddin Jompa membagikan pengalaman UNHAS dalam menjalankan tata kelola perguruan tinggi dengan fleksibilitas kelembagaan yang dimiliki. Ia menekankan pentingnya optimalisasi kewenangan dan fleksibilitas tata kelola yang tersedia untuk memperkuat fungsi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

 

Menurut Prof. Jompa, persiapan menuju PTN-BH perlu dilakukan secara matang dengan tetap mengoptimalkan kapasitas kelembagaan yang telah dimiliki UNG saat ini.

 

“Kunci utama dari kemandirian adalah mengoptimalkan keleluasaan tata kelola yang ada saat ini. Jadilah BLU yang bercita rasa PTN-BH. Manfaatkan otonomi untuk menggerakkan riset dan merespons potensi wilayah yang bernilai strategis,” ungkap Prof. Jompa.

 

Dalam sesi berbagi pengalaman tersebut, Prof. Jompa juga memaparkan pengalaman UNHAS dalam memanfaatkan otonomi akademik untuk merespons kebutuhan dan potensi strategis wilayah. Salah satunya melalui pengembangan program studi yang mendukung kebutuhan industri hilirisasi mineral di Sulawesi.

 

Pengalaman tersebut menjadi bagian dari pembelajaran bersama bagi UNG dalam melihat peluang pengembangan akademik dan riset yang selaras dengan potensi daerah. Menurut Prof. Jompa, UNG memiliki modal kewilayahan yang strategis, antara lain potensi Teluk Tomini, keanekaragaman hayati bahari, serta kekayaan mineral yang dapat dikembangkan melalui pendidikan, penelitian, dan inovasi.

 

Selain penguatan otonomi akademik, forum kerja sama tersebut turut membahas pentingnya sinergi antarunsur kelembagaan, transformasi digital birokrasi, serta penguatan hilirisasi hasil riset. Aspek-aspek tersebut dinilai penting dalam membangun tata kelola perguruan tinggi yang adaptif sekaligus mendukung keberlanjutan operasional dan peningkatan kontribusi perguruan tinggi terhadap pembangunan daerah.

 

Implementasi kerja sama UNG dan UNHAS melalui forum berbagi pengalaman ini sekaligus memperkuat hubungan kelembagaan kedua perguruan tinggi. Kolaborasi tidak hanya diarahkan pada aspek tata kelola, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun kesamaan perspektif dalam mengembangkan pendidikan tinggi yang responsif terhadap kebutuhan kawasan timur Indonesia.

 

Pertemuan tersebut ditutup dengan komitmen untuk terus memperkuat kolaborasi dan berbagi pengalaman antara UNG dan UNHAS. Kedua perguruan tinggi menempatkan kerja sama sebagai instrumen untuk saling mendukung peningkatan kualitas pendidikan tinggi, pengembangan riset, penguatan tata kelola, serta kontribusi terhadap pembangunan Indonesia bagian timur.

 

Sesi berbagi pengalaman kemudian dilanjutkan dengan dialog interaktif antarunsur pimpinan dan ramah tamah bersama sivitas akademika. Melalui implementasi kerja sama ini, UNG dan UNHAS terus membangun sinergi kelembagaan yang diharapkan dapat memberikan kontribusi lebih luas bagi penguatan pendidikan tinggi dan kemajuan kawasan timur Indonesia.