Jakarta-Fakultas
Teknik Universitas Negeri Gorontalo (FT UNG) memperkuat kontribusinya dalam
pembangunan wilayah melalui kemitraan dengan Kementerian Agraria dan Tata
Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN). Kolaborasi ini diwujudkan melalui
keterlibatan Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) FT UNG dalam penyusunan
Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kawasan Perbatasan Negara (KPN) Kwandang dan
Ilangata di Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo.
Implementasi
kerja sama tersebut memasuki tahapan pembahasan melalui Focus Group Discussion
(FGD) I yang berlangsung di The Tribrata Hotel Convention Center, Jakarta, pada
14–15 Oktober 2026. Kegiatan ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan
dari unsur pemerintah pusat, pemerintah daerah, pertahanan, serta akademisi
untuk menyelaraskan arah perencanaan kawasan perbatasan negara.
Dalam
kegiatan tersebut, PWK FT UNG berperan sebagai mitra Kementerian ATR/BPN dalam
penyusunan materi teknis dan Rancangan Peraturan Presiden (Ranperpres) RDTR KPN
Kwandang dan Ilangata. Keterlibatan ini menjadi bentuk kontribusi perguruan
tinggi dalam mendukung perencanaan tata ruang yang terarah, berbasis kajian
akademis, dan sesuai dengan karakteristik serta kebutuhan daerah.
FGD
I berfokus pada penyepakatan delineasi atau batas wilayah perencanaan serta
penjaringan isu kewilayahan yang akan menjadi dasar penyusunan RDTR. Selain
itu, forum tersebut juga menjaring isu pembangunan berkelanjutan sebagai bagian
dari penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS).
Penyepakatan
delineasi menjadi tahapan penting untuk memastikan kejelasan cakupan wilayah
perencanaan. Sementara itu, penjaringan isu kewilayahan dilakukan untuk
mengidentifikasi potensi, permasalahan, dan kebutuhan pengembangan kawasan.
Kedua aspek tersebut diperlukan agar rencana tata ruang dapat mengakomodasi
kepentingan pembangunan secara terpadu.
Melalui
penyusunan KLHS, aspek lingkungan turut diintegrasikan sejak tahap awal
perencanaan. Pendekatan ini memungkinkan pertimbangan mengenai daya dukung dan
daya tampung lingkungan berjalan beriringan dengan kebutuhan pengembangan
ekonomi, penyediaan infrastruktur, pelayanan masyarakat, serta kepentingan
pertahanan dan keamanan di kawasan perbatasan.
Ketua
Jurusan PWK FT UNG, Dr. Ir. Sri Sutarni Arifin, menegaskan bahwa kemitraan
dengan Kementerian ATR/BPN merupakan kesempatan bagi perguruan tinggi untuk
berkontribusi secara langsung dalam mendukung kebijakan pembangunan wilayah.
“Sebagai
mitra Kementerian ATR/BPN, Jurusan PWK FT UNG berkomitmen mendukung penyusunan
RDTR melalui kajian yang berbasis data, dapat dipertanggungjawabkan secara akademis,
dan memperhatikan kondisi wilayah. Kemitraan ini menjadi ruang bagi perguruan
tinggi untuk memberikan kontribusi langsung terhadap kualitas perencanaan
pembangunan,” ujar Sri Sutarni.
Menurutnya,
perencanaan kawasan perbatasan membutuhkan kolaborasi lintas sektor agar
kebijakan tata ruang yang dihasilkan mampu menjawab kebutuhan daerah sekaligus
mendukung kepentingan pembangunan nasional. Karena itu, keterlibatan
kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dan unsur pertahanan menjadi bagian
penting dalam menyelaraskan berbagai kebutuhan serta kepentingan sektoral.
“Penjaringan
isu kewilayahan dan isu pembangunan berkelanjutan perlu berjalan beriringan.
Arah pemanfaatan ruang harus mempertimbangkan kebutuhan masyarakat,
pengembangan ekonomi, pelayanan infrastruktur, kepentingan pertahanan, serta
perlindungan lingkungan. Pertimbangan tersebut perlu dibangun sejak tahap awal
penyusunan,” tuturnya.
Dalam
pelaksanaan pekerjaan ini, PWK FT UNG didukung tim akademisi lintas disiplin
dari Universitas Negeri Gorontalo. Tim tersebut melibatkan keahlian di bidang
perencanaan wilayah dan kota, teknik sipil, geografi, geologi, ekonomi
pembangunan, serta ilmu hukum. Keterlibatan berbagai disiplin ilmu diharapkan
dapat menghasilkan kajian yang komprehensif sebagai dasar penyusunan materi
teknis RDTR dan Ranperpres.
FGD
I dihadiri perwakilan Kementerian Dalam Negeri, Badan Nasional Pengelola
Perbatasan, Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan
Kewilayahan, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Perhubungan, serta
Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman.
Turut
hadir Komandan Brigade Infanteri 22/Ota Manasa, Komandan Satuan Radar
207/Kwandang, Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Gorontalo,
serta Kantor Pertanahan Kabupaten Gorontalo Utara.
Dari
Pemerintah Provinsi Gorontalo, kegiatan ini diikuti oleh Dinas Perhubungan;
Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman;
serta Dinas Kelautan dan Perikanan. Sementara itu, Pemerintah Kabupaten
Gorontalo Utara diwakili oleh Bappeda, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang,
Dinas Lingkungan Hidup, serta Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi.
Pelaksanaan
FGD I tersebut merupakan kelanjutan dari rangkaian koordinasi penyusunan RDTR
KPN Kwandang dan Ilangata. Sebelumnya, tim UNG telah melaksanakan rapat
koordinasi awal bersama Kementerian ATR/BPN di Jakarta pada 13 Oktober 2026
untuk menyelaraskan pendekatan teknis dan pelaksanaan pekerjaan.
Sri
Sutarni berharap kolaborasi antara FT UNG, Kementerian ATR/BPN, dan berbagai
pemangku kepentingan dapat memperkuat kualitas penyusunan materi teknis serta
Ranperpres RDTR. Sinergi tersebut juga diharapkan mampu menjaga keselarasan
antara kebijakan nasional dan kebutuhan pembangunan daerah.
“Melalui
kemitraan ini, kami ingin memastikan kontribusi keilmuan perguruan tinggi
menjawab kebutuhan perencanaan wilayah. Harapannya, RDTR Kwandang dan Ilangata
dapat menjadi acuan pemanfaatan ruang yang jelas, menjaga kualitas lingkungan,
dan mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat di kawasan perbatasan,”
pungkasnya.