Gorontalo-Dosen
Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial (FIS), Universitas Negeri
Gorontalo (UNG), mendorong peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan
sampah organik melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Kampanye
Digital Eco-Enzyme: Edukasi Pemanfaatan Sampah Buah melalui Konten Media
Sosial” yang dilaksanakan di Kantor Lurah Donggala, Selasa (13/10/26).
Kegiatan
ini menjadi salah satu bentuk implementasi kerja sama dalam mendukung edukasi
lingkungan berbasis komunikasi digital. Melalui program tersebut, tim dosen FIS
UNG mengintegrasikan keilmuan komunikasi dengan upaya pemberdayaan masyarakat,
khususnya dalam meningkatkan pemahaman mengenai pemilahan dan pemanfaatan
sampah organik rumah tangga.
Program
pengabdian ini diketuai oleh Wira Pratama Rumambie, dengan anggota tim Muhammad
Akram Mursalim, Feni Mariana, dan Ramansyah. Kolaborasi tersebut diarahkan
untuk menghadirkan edukasi yang tidak hanya memberikan pemahaman tentang
pengelolaan sampah, tetapi juga mendorong masyarakat memanfaatkan media digital
sebagai sarana penyebarluasan informasi lingkungan.
Ketua
tim pengabdian, Wira Pratama Rumambie, menjelaskan bahwa persoalan sampah rumah
tangga membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pengolahan limbah,
tetapi juga pada pembentukan kebiasaan masyarakat dalam memilah dan
memanfaatkan sampah sejak dari sumbernya.
Menurutnya,
komunikasi memiliki peran penting dalam membangun kesadaran masyarakat
sekaligus mendorong keterlibatan aktif dalam menjaga kebersihan dan kelestarian
lingkungan.
“Pengelolaan
sampah tidak cukup hanya dengan menyediakan fasilitas atau memperkenalkan
teknologi pengolahan. Hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana membangun
kesadaran masyarakat melalui edukasi dan komunikasi yang mudah dipahami.
Melalui kampanye digital, pesan lingkungan dapat disampaikan secara lebih luas
dan berkelanjutan,” ujarnya.
Dalam
kegiatan tersebut, tim pengabdian memberikan materi mengenai persoalan sampah,
pengenalan jenis sampah organik dan anorganik, serta pentingnya pemilahan
sampah sejak dari lingkungan rumah tangga. Materi ini diharapkan dapat membantu
masyarakat memahami langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk
mengurangi timbulan sampah.
Salah
satu materi utama yang diperkenalkan adalah pemanfaatan sampah buah sebagai
bahan pembuatan eco-enzyme, yaitu cairan hasil fermentasi bahan organik, seperti
kulit buah, dengan campuran air dan gula. Pengenalan metode ini menjadi bagian
dari edukasi mengenai alternatif pemanfaatan sampah organik agar bahan yang
masih berpotensi digunakan tidak langsung dibuang.
Selain
edukasi mengenai pengolahan sampah, tim dosen FIS UNG juga memperkenalkan
strategi kampanye digital melalui pemanfaatan media sosial. Peserta diberikan
pemahaman mengenai cara mengemas pesan lingkungan ke dalam konten visual, foto,
maupun video sederhana agar informasi lebih menarik, komunikatif, dan mudah
dipahami oleh masyarakat luas.
Wira
menambahkan bahwa media sosial dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk
memperluas jangkauan edukasi sekaligus membangun partisipasi masyarakat dalam
menyebarkan informasi mengenai kepedulian lingkungan.
“Melalui
konten digital, masyarakat tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga
memiliki kesempatan untuk berperan sebagai penyampai pesan lingkungan. Hal
sederhana seperti membagikan informasi pemilahan sampah atau proses pemanfaatan
limbah buah dapat menjadi bagian dari kampanye positif yang memberikan manfaat
bagi lingkungan sekitar,” tambahnya.
Pelaksanaan
kegiatan dilakukan melalui penyampaian materi, diskusi interaktif, serta
pendampingan kepada peserta. Pendekatan partisipatif ini memberikan ruang bagi
masyarakat untuk mendiskusikan persoalan sampah di lingkungan sekitar dan
memahami peluang penerapan pengelolaan sampah organik dalam kehidupan
sehari-hari.
Melalui
kegiatan tersebut, masyarakat didorong untuk mulai membangun kebiasaan memilah
sampah, memanfaatkan bahan organik yang masih memiliki nilai guna, serta
menyebarluaskan informasi mengenai praktik pengelolaan sampah yang bertanggung
jawab. Edukasi melalui kampanye digital juga diharapkan dapat memperkuat
keterlibatan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan secara
berkelanjutan.
Dari
perspektif keilmuan, kegiatan ini menunjukkan bahwa Ilmu Komunikasi memiliki
peran strategis dalam mendukung upaya penyelesaian persoalan lingkungan.
Komunikasi digital tidak hanya berfungsi sebagai media penyebaran informasi,
tetapi juga dapat menjadi sarana edukasi, pemberdayaan, dan penguatan
partisipasi masyarakat.
Melalui
program pengabdian ini, tim dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FIS UNG berharap
implementasi kerja sama dengan berbagai pihak dapat terus dikembangkan untuk
mendukung edukasi lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Sinergi
antara perguruan tinggi, pemerintah kelurahan, dan masyarakat diharapkan mampu
memperluas penerapan praktik pengelolaan sampah organik serta meningkatkan
literasi lingkungan melalui pemanfaatan teknologi komunikasi digital.