Gorontalo-Keberadaan ikan sapu-sapu
di perairan dapat menjadi persoalan ketika populasinya berkembang dan
berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem. Namun, di sisi lain, keberadaan
ikan tersebut dapat dimanfaatkan menjadi sumber daya yang memiliki nilai guna
dan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Upaya pemanfaatan tersebut
diwujudkan Universitas Negeri Gorontalo (UNG) melalui implementasi kerja sama
dalam program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Pengendalian Spesies
Invasif melalui Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Pengolahan Ikan Sapu-Sapu
menjadi Tepung Ikan sebagai Upaya Penguatan Ekonomi.” Kegiatan ini dilaksanakan
di Desa Limehe Timur, Kecamatan Tabongo, dengan mengedepankan pendekatan
pemberdayaan masyarakat melalui pengolahan ikan sapu-sapu menjadi tepung ikan.
Program tersebut dilaksanakan oleh
tim dosen UNG yang terdiri atas Sri Rahayu Kalaka, S.Pi., M.Si., Prof. Dr. Femy
Mahmud Sahami, S.Pi., M.Si., dan Dr. Mohamad Agus Salim Monoarfa, S.E., M.M.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan turut melibatkan mahasiswa UNG sebagai bagian
dari proses pendampingan, pemberdayaan, dan transfer pengetahuan kepada masyarakat.
Implementasi kerja sama ini
diarahkan untuk memberikan solusi terhadap persoalan keberadaan ikan sapu-sapu
sekaligus membuka peluang pemanfaatan yang dapat memberikan nilai tambah bagi
masyarakat. Melalui pengolahan menjadi tepung ikan, ikan sapu-sapu yang
sebelumnya belum banyak dimanfaatkan secara ekonomi dapat diolah menjadi produk
yang memiliki nilai guna dan berpotensi dikembangkan lebih lanjut.
Masyarakat Desa Limehe Timur
mendapatkan pengetahuan dan keterampilan mengenai pemanfaatan serta pengolahan
ikan sapu-sapu sebagai bahan baku tepung ikan. Proses tersebut tidak hanya
berfokus pada pengolahan bahan baku, tetapi juga mendorong masyarakat untuk
melihat potensi ekonomi dari sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar.
Pendekatan pemberdayaan ini menjadi
bagian penting dalam implementasi kerja sama karena masyarakat tidak hanya
ditempatkan sebagai penerima manfaat, tetapi juga dilibatkan secara aktif dalam
proses pengembangan dan pemanfaatan potensi lokal. Dengan keterampilan yang
diperoleh, masyarakat diharapkan mampu mengembangkan alternatif pemanfaatan
hasil tangkapan ikan sapu-sapu secara produktif.
Pengolahan ikan sapu-sapu menjadi
tepung ikan juga mempertemukan aspek lingkungan dan ekonomi dalam satu
kegiatan. Di satu sisi, pemanfaatan ikan tersebut dapat mendukung upaya
pengendalian spesies invasif, sementara di sisi lain hasil pengolahannya dapat
dikembangkan menjadi produk bernilai tambah yang berpotensi mendukung aktivitas
ekonomi masyarakat.
Saat melakukan monitoring dan
evaluasi (monev) program, Ketua LPPM UNG, Prof. Lanto Ningrayati Amali,
menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menunjukkan bagaimana persoalan lingkungan
dapat diatasi melalui pendekatan pemberdayaan yang memberikan manfaat langsung
bagi masyarakat.
“Program ini memberikan pendekatan
yang menarik karena ikan sapu-sapu yang selama ini menjadi persoalan di
perairan dapat dimanfaatkan menjadi produk yang memiliki nilai guna. Kami
berharap masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan pengolahan, tetapi juga
mampu mengembangkan pemanfaatan ikan sapu-sapu sebagai peluang ekonomi,”
ujarnya.
Melalui implementasi kerja sama
tersebut, UNG terus mendorong pengembangan solusi berbasis potensi lokal yang
tidak hanya memberikan manfaat terhadap lingkungan, tetapi juga meningkatkan
kapasitas dan kemandirian masyarakat.