Gorontalo-Kolaborasi
Universitas Negeri Gorontalo (UNG) melalui Fakultas Kedokteran (FK) bersama
Puskesmas Kota Timur menghadirkan inovasi SITEDI (Sistem Terpadu Deteksi
Tuberkulosis pada Pasien Diabetes Melitus) sebagai upaya memperkuat deteksi
dini tuberkulosis (TBC) pada kelompok pasien diabetes melitus (DM). Inovasi ini
mengintegrasikan skrining TBC, pencatatan digital, serta pendampingan pasien
untuk mempercepat penemuan kasus dan mendukung upaya eliminasi TBC nasional.
Program
yang dilaksanakan pada 5–8 Oktober 2026 di wilayah kerja Puskesmas Kota Timur,
Kota Gorontalo, tersebut merupakan mini project Departemen Ilmu Kesehatan
Masyarakat dan Ilmu Kedokteran Komunitas (IKM-IKK), Program Studi Profesi
Kedokteran FK UNG. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk implementasi
kolaborasi antara institusi pendidikan kedokteran dan fasilitas pelayanan
kesehatan dalam menghadirkan inovasi yang dapat diterapkan langsung di tengah
masyarakat.
Dalam
pelaksanaan perdana, SITEDI berhasil menjaring tiga pasien terduga TBC dari 12
pasien diabetes yang mengikuti skrining. Ketiga pasien tersebut selanjutnya
masuk dalam pemantauan untuk menjalani pemeriksaan lanjutan. Kegiatan ini
dilaksanakan oleh dokter muda Fathur Adilman Sudarmo, S.Ked., dan Rifa Az-zahra
Wardhany, S.Ked., di bawah bimbingan Dr. dr. Serly Daud, M.Kes., selaku
pembimbing departemen, serta dr. Ainsyah Harun sebagai pembimbing klinik.
Implementasi program turut mendapat dukungan Puskesmas Kota Timur yang dipimpin
Fitriyanti Yusuf, SKM, M.K.M.
Pengembangan
SITEDI dilatarbelakangi data Puskesmas Kota Timur yang menunjukkan adanya
keterkaitan antara diabetes dan TBC. Dari 110 pasien TBC yang menjalani
pengobatan sejak 2025 hingga September 2026, sebanyak 25 orang atau 22,7 persen
di antaranya juga menderita diabetes. Bahkan, pada kelompok pasien TBC berusia
60 tahun ke atas, proporsi pasien dengan diabetes mencapai 29,6 persen.
Data
tersebut memperlihatkan pentingnya skrining TBC secara rutin bagi pasien
diabetes. Kadar gula darah yang tinggi dapat menurunkan daya tahan tubuh
sehingga meningkatkan risiko seseorang mengalami TBC. Selain itu, pada kelompok
lanjut usia, gejala TBC kerap muncul secara tidak khas, seperti tubuh lemas dan
penurunan nafsu makan, sehingga berpotensi terlambat dikenali.
Integrasikan Skrining TBC dalam Layanan Rutin Pasien Diabetes
Salah
satu keunggulan SITEDI terletak pada integrasi skrining TBC ke dalam kunjungan
rutin pasien diabetes. Melalui pendekatan ini, pasien tidak perlu datang secara
khusus hanya untuk menjalani pemeriksaan TBC. Puskesmas Kota Timur yang
sebelumnya telah menjangkau seluruh 346 sasaran pasien diabetes pada 2025, kini
memanfaatkan jangkauan layanan tersebut untuk memperkuat skrining TBC secara
lebih terarah dan berkelanjutan.
Inovasi
utama dalam program ini adalah penggunaan SITEDI Card, yakni kartu kontrol
TBC–Diabetes berukuran A5 yang dibawa pasien setiap kali melakukan kunjungan
kontrol Prolanis maupun Cek Kesehatan Gratis. Kartu tersebut memuat identitas
pasien, faktor risiko TBC, serta catatan setiap kunjungan, termasuk berat
badan, tekanan darah, gula darah, dan hasil skrining gejala TBC.
Dengan
sistem tersebut, pemantauan diabetes dan kewaspadaan terhadap TBC dapat
dilakukan secara terpadu. Skrining dilaksanakan berdasarkan metode skrining
gejala yang ditetapkan Kementerian Kesehatan bagi pasien diabetes. Pasien
dinyatakan terduga TBC apabila mengalami batuk selama dua minggu atau lebih,
atau batuk dengan durasi berapa pun yang disertai gejala lain, seperti demam
hilang timbul, keringat malam, atau penurunan berat badan.
Hasil
skrining selanjutnya dicatat dalam basis data bersama yang dapat diakses oleh
pemegang program TBC dan program penyakit tidak menular (PTM). Sistem ini
mempermudah koordinasi antarprogram dalam menindaklanjuti pasien yang
membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut. Pasien dengan hasil skrining positif akan
dihubungi melalui WhatsApp, setelah memperoleh persetujuan sejak awal, serta
didampingi untuk menjalani Tes Cepat Molekuler (TCM) dalam batas waktu 14 hari.
Perluas Jangkauan Pelayanan dan Edukasi Masyarakat
Implementasi
SITEDI juga dilakukan melalui sejumlah titik pelayanan di wilayah kerja
Puskesmas Kota Timur, meliputi Pustu Ipilo, Pustu Heledulaa Selatan, Kantor
Lurah Moodu, dan Kantor Lurah Padebuolo. Setiap sesi diawali dengan pengisian
kartu skrining yang dibantu petugas kesehatan, kader, dan keluarga pasien.
Kegiatan dilanjutkan dengan edukasi mengenai hubungan diabetes dan TBC serta
sesi tanya jawab.
Dalam
kegiatan edukasi tersebut, tim memberikan pemahaman mengenai pentingnya deteksi
dini, gejala TBC, serta hubungan antara kondisi diabetes dan risiko infeksi
TBC. Pasien juga mendapatkan informasi bahwa pemeriksaan TCM dan pengobatan TBC
di Puskesmas tersedia tanpa biaya, serta TBC dapat disembuhkan apabila
pengobatan dijalani secara tuntas.
Sebagai
media pendukung edukasi, peserta menerima leaflet bertajuk “Punya Diabetes?
Waspada TBC!” yang memuat informasi gejala TBC, alur skrining, dan
langkah-langkah menjaga kadar gula darah.
Dari
12 pasien diabetes yang mengikuti skrining, tujuh di antaranya perempuan dan
lima laki-laki, dengan rata-rata usia 62 tahun. Sebanyak sembilan pasien
berusia 60 tahun ke atas. Selain menemukan tiga pasien terduga TBC atau 25 persen
dari peserta skrining, kegiatan ini juga mengidentifikasi satu pasien yang
memiliki riwayat kontak erat dengan pasien TBC. Pemeriksaan gula darah yang
dilakukan bersamaan turut membantu mengidentifikasi pasien yang membutuhkan
perhatian lebih dalam pengendalian diabetes.
Dorong Keberlanjutan Kolaborasi dan Eliminasi TBC
Untuk
memastikan keberlanjutan program, SITEDI dirancang agar dapat terus diterapkan
di Puskesmas Kota Timur melalui koordinasi antara Klaster 3 yang melayani
pasien diabetes dan Klaster 4 yang menangani penanggulangan TBC. Skrining TBC
akan diintegrasikan ke dalam berbagai layanan kesehatan, termasuk kontrol rutin
pasien diabetes, Prolanis, Posyandu Lansia, dan Cek Kesehatan Gratis.
Sebagai
bagian dari dukungan keberlanjutan, media edukasi SITEDI juga diserahkan kepada
pihak Puskesmas. Hasil skrining akan dievaluasi secara berkala melalui
lokakarya mini serta dilaporkan dalam Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB).
Melalui kolaborasi FK UNG dan Puskesmas Kota Timur, inovasi SITEDI diharapkan tidak hanya menjadi solusi dalam meningkatkan deteksi dini TBC pada pasien diabetes, tetapi juga dapat memperkuat integrasi pelayanan kesehatan di tingkat masyarakat. Inisiatif ini sekaligus menunjukkan peran pendidikan kedokteran dalam menghadirkan inovasi berbasis kebutuhan lapangan, memperluas akses pelayanan preventif, serta mendukung percepatan eliminasi TBC nasional pada 2030.