Update Terkini

Berita

KOLABORASI UNG HADIRKAN SITEDI, INOVASI DETEKSI DINI TBC PADA PASIEN DIABETES
Penelitian
Penelitian 02 Nov 2026 0 dilihat

KOLABORASI UNG HADIRKAN SITEDI, INOVASI DETEKSI DINI TBC PADA PASIEN DIABETES

Gorontalo-Kolaborasi Universitas Negeri Gorontalo (UNG) melalui Fakultas Kedokteran (FK) bersama Puskesmas Kota Timur menghadirkan inovasi SITEDI (Sistem Terpadu Deteksi Tuberkulosis pada Pasien Diabetes Melitus) sebagai upaya memperkuat deteksi dini tuberkulosis (TBC) pada kelompok pasien diabetes melitus (DM). Inovasi ini mengintegrasikan skrining TBC, pencatatan digital, serta pendampingan pasien untuk mempercepat penemuan kasus dan mendukung upaya eliminasi TBC nasional.

 

Program yang dilaksanakan pada 5–8 Oktober 2026 di wilayah kerja Puskesmas Kota Timur, Kota Gorontalo, tersebut merupakan mini project Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Kedokteran Komunitas (IKM-IKK), Program Studi Profesi Kedokteran FK UNG. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk implementasi kolaborasi antara institusi pendidikan kedokteran dan fasilitas pelayanan kesehatan dalam menghadirkan inovasi yang dapat diterapkan langsung di tengah masyarakat.

 

Dalam pelaksanaan perdana, SITEDI berhasil menjaring tiga pasien terduga TBC dari 12 pasien diabetes yang mengikuti skrining. Ketiga pasien tersebut selanjutnya masuk dalam pemantauan untuk menjalani pemeriksaan lanjutan. Kegiatan ini dilaksanakan oleh dokter muda Fathur Adilman Sudarmo, S.Ked., dan Rifa Az-zahra Wardhany, S.Ked., di bawah bimbingan Dr. dr. Serly Daud, M.Kes., selaku pembimbing departemen, serta dr. Ainsyah Harun sebagai pembimbing klinik. Implementasi program turut mendapat dukungan Puskesmas Kota Timur yang dipimpin Fitriyanti Yusuf, SKM, M.K.M.

 

Pengembangan SITEDI dilatarbelakangi data Puskesmas Kota Timur yang menunjukkan adanya keterkaitan antara diabetes dan TBC. Dari 110 pasien TBC yang menjalani pengobatan sejak 2025 hingga September 2026, sebanyak 25 orang atau 22,7 persen di antaranya juga menderita diabetes. Bahkan, pada kelompok pasien TBC berusia 60 tahun ke atas, proporsi pasien dengan diabetes mencapai 29,6 persen.

 

Data tersebut memperlihatkan pentingnya skrining TBC secara rutin bagi pasien diabetes. Kadar gula darah yang tinggi dapat menurunkan daya tahan tubuh sehingga meningkatkan risiko seseorang mengalami TBC. Selain itu, pada kelompok lanjut usia, gejala TBC kerap muncul secara tidak khas, seperti tubuh lemas dan penurunan nafsu makan, sehingga berpotensi terlambat dikenali.

 

Integrasikan Skrining TBC dalam Layanan Rutin Pasien Diabetes

Salah satu keunggulan SITEDI terletak pada integrasi skrining TBC ke dalam kunjungan rutin pasien diabetes. Melalui pendekatan ini, pasien tidak perlu datang secara khusus hanya untuk menjalani pemeriksaan TBC. Puskesmas Kota Timur yang sebelumnya telah menjangkau seluruh 346 sasaran pasien diabetes pada 2025, kini memanfaatkan jangkauan layanan tersebut untuk memperkuat skrining TBC secara lebih terarah dan berkelanjutan.

 

Inovasi utama dalam program ini adalah penggunaan SITEDI Card, yakni kartu kontrol TBC–Diabetes berukuran A5 yang dibawa pasien setiap kali melakukan kunjungan kontrol Prolanis maupun Cek Kesehatan Gratis. Kartu tersebut memuat identitas pasien, faktor risiko TBC, serta catatan setiap kunjungan, termasuk berat badan, tekanan darah, gula darah, dan hasil skrining gejala TBC.

 

Dengan sistem tersebut, pemantauan diabetes dan kewaspadaan terhadap TBC dapat dilakukan secara terpadu. Skrining dilaksanakan berdasarkan metode skrining gejala yang ditetapkan Kementerian Kesehatan bagi pasien diabetes. Pasien dinyatakan terduga TBC apabila mengalami batuk selama dua minggu atau lebih, atau batuk dengan durasi berapa pun yang disertai gejala lain, seperti demam hilang timbul, keringat malam, atau penurunan berat badan.

 

Hasil skrining selanjutnya dicatat dalam basis data bersama yang dapat diakses oleh pemegang program TBC dan program penyakit tidak menular (PTM). Sistem ini mempermudah koordinasi antarprogram dalam menindaklanjuti pasien yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut. Pasien dengan hasil skrining positif akan dihubungi melalui WhatsApp, setelah memperoleh persetujuan sejak awal, serta didampingi untuk menjalani Tes Cepat Molekuler (TCM) dalam batas waktu 14 hari.

 

Perluas Jangkauan Pelayanan dan Edukasi Masyarakat

Implementasi SITEDI juga dilakukan melalui sejumlah titik pelayanan di wilayah kerja Puskesmas Kota Timur, meliputi Pustu Ipilo, Pustu Heledulaa Selatan, Kantor Lurah Moodu, dan Kantor Lurah Padebuolo. Setiap sesi diawali dengan pengisian kartu skrining yang dibantu petugas kesehatan, kader, dan keluarga pasien. Kegiatan dilanjutkan dengan edukasi mengenai hubungan diabetes dan TBC serta sesi tanya jawab.

 

Dalam kegiatan edukasi tersebut, tim memberikan pemahaman mengenai pentingnya deteksi dini, gejala TBC, serta hubungan antara kondisi diabetes dan risiko infeksi TBC. Pasien juga mendapatkan informasi bahwa pemeriksaan TCM dan pengobatan TBC di Puskesmas tersedia tanpa biaya, serta TBC dapat disembuhkan apabila pengobatan dijalani secara tuntas.

 

Sebagai media pendukung edukasi, peserta menerima leaflet bertajuk “Punya Diabetes? Waspada TBC!” yang memuat informasi gejala TBC, alur skrining, dan langkah-langkah menjaga kadar gula darah.

 

Dari 12 pasien diabetes yang mengikuti skrining, tujuh di antaranya perempuan dan lima laki-laki, dengan rata-rata usia 62 tahun. Sebanyak sembilan pasien berusia 60 tahun ke atas. Selain menemukan tiga pasien terduga TBC atau 25 persen dari peserta skrining, kegiatan ini juga mengidentifikasi satu pasien yang memiliki riwayat kontak erat dengan pasien TBC. Pemeriksaan gula darah yang dilakukan bersamaan turut membantu mengidentifikasi pasien yang membutuhkan perhatian lebih dalam pengendalian diabetes.

 

Dorong Keberlanjutan Kolaborasi dan Eliminasi TBC

Untuk memastikan keberlanjutan program, SITEDI dirancang agar dapat terus diterapkan di Puskesmas Kota Timur melalui koordinasi antara Klaster 3 yang melayani pasien diabetes dan Klaster 4 yang menangani penanggulangan TBC. Skrining TBC akan diintegrasikan ke dalam berbagai layanan kesehatan, termasuk kontrol rutin pasien diabetes, Prolanis, Posyandu Lansia, dan Cek Kesehatan Gratis.

 

Sebagai bagian dari dukungan keberlanjutan, media edukasi SITEDI juga diserahkan kepada pihak Puskesmas. Hasil skrining akan dievaluasi secara berkala melalui lokakarya mini serta dilaporkan dalam Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB).

 

Melalui kolaborasi FK UNG dan Puskesmas Kota Timur, inovasi SITEDI diharapkan tidak hanya menjadi solusi dalam meningkatkan deteksi dini TBC pada pasien diabetes, tetapi juga dapat memperkuat integrasi pelayanan kesehatan di tingkat masyarakat. Inisiatif ini sekaligus menunjukkan peran pendidikan kedokteran dalam menghadirkan inovasi berbasis kebutuhan lapangan, memperluas akses pelayanan preventif, serta mendukung percepatan eliminasi TBC nasional pada 2030.