Gorontalo-Dokter
muda Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (FK UNG) memperkuat
kolaborasi dengan Puskesmas Dumbo Raya, Kota Gorontalo, melalui pengembangan
dan implementasi inovasi PEKA (Peduli, Kenali, Evaluasi, Ambil Langkah).
Inovasi berbasis website ini dikembangkan sebagai sarana skrining mandiri
tuberkulosis (TB) untuk mendukung penemuan kasus secara dini sekaligus
meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap gejala dan faktor risiko penyakit
tersebut.
Inovasi
PEKA dikembangkan oleh Muthia Qurrota Aini, S.Ked., dan Annisa Regita Febriani,
S.Ked., yang sedang menjalani stase Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Ilmu
Kedokteran Komunitas (IKM-IKK), di bawah bimbingan dr. Dian Pratiwi Iman,
M.Kes., dan dr. Fadlun Bagu. Pengembangan program ini menjadi salah satu bentuk
penerapan ilmu kedokteran komunitas melalui kolaborasi dengan fasilitas
pelayanan kesehatan primer dalam menjawab kebutuhan penemuan kasus TB di
masyarakat.
Sebagai
bagian dari implementasi program, sosialisasi penggunaan website PEKA
dilaksanakan pada 30 September 2026 di Puskesmas Dumbo Raya. Kegiatan tersebut
menyasar masyarakat yang sedang mengakses pelayanan kesehatan dengan
memperkenalkan fungsi website, tata cara pengisian skrining mandiri, serta
langkah tindak lanjut berdasarkan hasil penilaian. Melalui platform ini,
masyarakat dapat melakukan identifikasi awal terhadap gejala dan faktor risiko
TB serta memperoleh informasi mengenai langkah yang perlu dilakukan
selanjutnya.
Implementasi
PEKA berlangsung sejak 24 September hingga 17 Oktober 2026 dengan melibatkan
100 peserta skrining. Pelaksanaannya dilakukan melalui dua pendekatan, yakni
integrasi dengan pelayanan poliklinik di dalam gedung puskesmas dan kegiatan di
luar gedung melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Kedua pendekatan
tersebut dilakukan untuk memperluas jangkauan skrining sekaligus menjangkau
masyarakat yang berpotensi memiliki gejala maupun faktor risiko tuberkulosis.
Dalam
penggunaannya, PEKA mengelompokkan hasil skrining berdasarkan gejala dan faktor
risiko yang dilaporkan masyarakat. Peserta yang menunjukkan gejala mengarah
pada TB diidentifikasi sebagai terduga TB dan diarahkan untuk berkonsultasi
dengan petugas kesehatan guna menjalani evaluasi serta pemeriksaan lanjutan,
termasuk Tes Cepat Molekuler (TCM) sesuai indikasi.
Sementara
itu, masyarakat tanpa gejala dikelompokkan berdasarkan faktor risiko yang
dimiliki. Individu dengan faktor risiko tinggi diarahkan untuk berkonsultasi
dengan petugas kesehatan terkait evaluasi lebih lanjut dan kemungkinan
pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) sesuai ketentuan yang berlaku.
Adapun masyarakat yang tidak menunjukkan gejala maupun faktor risiko tinggi
memperoleh edukasi mengenai langkah-langkah pencegahan TB. Dengan demikian,
PEKA tidak hanya menjadi sarana skrining awal, tetapi juga media edukasi untuk
meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat.
Hasil
implementasi menunjukkan bahwa PEKA berhasil membantu mengidentifikasi terduga
TB yang kemudian menjalani pemeriksaan lanjutan menggunakan TCM dan memperoleh
hasil positif. Temuan ini menjadi salah satu capaian penting dari kolaborasi
dokter muda FK UNG dan Puskesmas Dumbo Raya dalam mendukung proses penemuan
kasus tuberkulosis. Pemanfaatan skrining digital memungkinkan masyarakat yang
berpotensi mengalami TB dikenali lebih awal dan dihubungkan dengan layanan
pemeriksaan di fasilitas kesehatan.
Pelaksanaan
program ini mendapat dukungan dari Puskesmas Dumbo Raya yang dipimpin Lisnawati
Pakaya, S.KM., M.M.Kes. Keterlibatan pihak puskesmas menjadi bagian penting
dalam memastikan inovasi PEKA dapat terintegrasi dengan kegiatan pelayanan
kesehatan, baik di dalam gedung maupun melalui kegiatan kesehatan masyarakat di
luar gedung. Kolaborasi tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya sinergi
antara institusi pendidikan kedokteran dan fasilitas pelayanan kesehatan dalam
mendukung upaya promotif dan preventif.
Komitmen
terhadap keberlanjutan program juga ditunjukkan melalui tetap aktifnya website
PEKA setelah periode mini project berakhir pada 17 Oktober 2026. Platform
tersebut masih dimanfaatkan oleh Puskesmas Dumbo Raya untuk mendukung kegiatan
skrining TB dalam pelayanan kesehatan maupun kegiatan di masyarakat.
Keberlanjutan pemanfaatan ini menjadi salah satu bentuk tindak lanjut
kolaborasi agar inovasi yang dikembangkan tidak berhenti pada pelaksanaan
program, tetapi dapat terus memberikan manfaat bagi pelayanan kesehatan.
Melalui
PEKA, dokter muda FK UNG menunjukkan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi
dan fasilitas pelayanan kesehatan dapat menghasilkan inovasi yang aplikatif dan
berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Pengembangan teknologi skrining digital
ini diharapkan dapat terus memperkuat penemuan kasus tuberkulosis, meningkatkan
kesadaran masyarakat terhadap pencegahan TB, serta mendukung penguatan
pelayanan kesehatan primer dan upaya eliminasi tuberkulosis di Indonesia.